Minggu, 27 Februari 2011

laporan ilmiah

Laporan ilmiah
tentang
PEMANFAATAN
Lengkuas SEBAGAI BAHAN PENGAWET PENGGANTI FORMALIN.






Disusun oleh :
Nama :darmanto a
Kelas :XII tkr 3
Nis :47




KATA PENGANTAR
Puji syukur dan terima kasih kepada Allah SWT karena telah melimpahkan rahmat Nya kepada penulis untuk dapat menyelesaikan Laporan Akhir untuk Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). PKM Bidang Penelitian yang berjudul "Pemanfaatan Lengkuas sebagai Bahan Pengawet Pengganti Formalin" akhirnya dapat kami selesaikan dengan tepat waktu.
Dengan disusunnya laporan akhir ini, diharapkan dapat memberikan sedikit pengetahuan mengenai pemanfaatan lengkuas (Lenguas galanga l.) sebagai solusi terhadap bahaya pemakaian formalin yang tidak tepat guna saat ini. Sehingga penelitian tersebut dirasa lebih bermanfaat bagi semua kalangan.
Sebagaimana pribahasa tak ada gading yang tak retak, maka demikian juga halnya dengan tulisan dalam laporan ini masih terdapat banyak kekurangan. Untuk itulah kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan dari pembaca demi melengkapi tulisan ini.
Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada Ibu Sri Rahayu Lestari (Dosen pembimbing), seluruh teman dan anggota keluarga yang ikut memberikan bantuan dan dorongan sampai terselesaikannya laporan akhir ini.


Banyumas,20 febuari 2011


Darmanto a




















2

DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL ………………………………………………………….1
KATA PENGANTAR ………………………………………………..............2
DAFTAR ISI…………………………………………………………..............3
I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah………………………………………………..…… 4
2. Perumusan Masalah………………………………………………………….. 4
3. Tujuan Program……………………………………………………………….4
4. Kegunaan Program……………………………………………………………4
II. TINJAUAN PUSTAKA
1. Formalin dan Bahayanya…………………………………………..................5
2. Deskripsi Lengkuas…………………………………………………………...5
3. Macam-macam Mikroba pada Bahan Pangan………………………………..5
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba Pangan…………5
5. Macam-macam Senyawa Antimikroba……………………………………….5
III. METODE PENDEKATAN
1. Jenis Penelitian………………………………………………………………..6
2. Populasi dan Sampel………………………………………………………….6
3. Variabel……………………………………………………………………….6
4. Model Penelitian………………………………………………………………6
IV. PELAKSANAAN KEGIATAN
1. Waktu dan Tempat Penelitian…………………………………………………7
2. Tahapan Pelaksanaan Penelitian………………………………………………7
3. Instrumen Penelitian…………………………………………………………..7
4. Rancangan dan realisasi Biaya……………………………………………….10.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Penelitian……………………………………………………………….11.
2. Pembahasan……………………………………………………………………11
VI. PENUTUP
1. Kesimpulan……………………………………………………………………12
2. Saran…………………………………………………………………………..12
Daftar Pustaka




















3

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Ikan termasuk makanan dengan kadar protein tinggi yang memungkinkan mikroba untuk tumbuh dengan cepat, sehingga ikan cepat rusak dan busuk. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pedagang ikan menggunakan formalin sebagai alternative guna menghambat pembusukan.Padahal, menurut Salam (2006), penggunaan formalin sebagai konsumsi sangat berbahaya terutama bagi kesehatan, dalam jangka panjang dapat menyebabkan kanker dan penyakit kronis lainnya.
Permasalahan tersebut yang membuat penulis terinspirasi untuk mencari solusi aman. Salah satunya dengan pemanfaatan lengkuas (Lenguas galanga l.). Rimpang lengkuas selain berserat kasar juga mempunyai aroma khas. Menurut Syamsiah (2003 : 45) rimpang lengkuas mengandung atsiri 1%, kamfer, sineol, eugenol, seskuiterpen, pinen kamferida, galangan, galangol, kristal kuning dan metil sinamat
Tjitrosoepomo (2005 : 425) menyebutkan bahwa tanaman lengkuas merupakan terna berumur panjang, dapat mencapai tinggi 1-3 m. Rimpang lengkuas memiliki sisik-sisik yang berwarna putih kemerahan, keras, mengkilap. Rasanya tajam, pedas, menggigit dan memiliki bau sedap. Lengkuas mudah dibudidayakan, sehingga untuk mencarinya masyarakat tidak kesulitan.
2. Perumusan Masalah
a. Bahan kimia apa yang terkandung dalam rimpang lengkuas (Lenguas galanga l.) dan mekanismenya sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pengawet alami pengganti formalin?
b. Bagaimana cara pengolahan tanaman lengkuas (Lenguas galanga l.) agar dapat dijadikan sebagai bahan pengawet alami pengganti formalin?
c. Bagaimana rasa ikan kembung yang telah diawetkan menggunakan pati rimpang lengkuas (Lenguas galanga l.)?
3. Tujuan Program
a) Untuk mengetahui zat kimia apa yang terkandung dalam tanaman lengkuas (Lenguas galanga l.) dan mekanismenya sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pengawet alami pengganti formalin
b) Untuk mengetahui cara mengolah tanaman lengkuas (Lenguas galanga l.) agar dapat dijadikan sebagai bahan pengawet alami pengganti formalin.
c) Untuk mengetahui bagaimana rasa ikan yang telah diawetkan menggunakan pati lengkuas (Lenguas galanga l.).


4
4. Kegunaan Program
Bagi masyarakat dapat memberi alternatif baru penggunaan bahan pengawet yang lebih aman dikonsumsi dan dapat meningkatkan mutu home industri. Bagi pemerintah, program ini dapat memberikan pandangan untuk menggalakkan budidaya tanaman lengkuas dan membantu Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam menyelesaikan kasus formalin.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Pustaka
1. Formalin dan Bahayanya
Formalin merupakan larutan bening berbau tajam. Dalam formalin terkandung sekitar 37 % formaldehid dalam air.(Salam, 2006). Formalin yang terhirup atau tertelan dalam jangka pendek menyebabkan iritasi saluran pernafasan, radang paru-paru, pendarahan dan kematian (www.wikipedia.com)
2. Deskripsi Lengkuas
Merupakan tumbuhan terna berumur panjang. Bagian tanaman yang digunakan adalah rimpang buah, biji, daun, batang muda, tunas bunga. Rimpang lengkuas mengandung 1 % minyak atsiri berwarna kuning kehijauan yang terutama terdiri dari metil sinamat 48 %, sineol 20 %, eugenol, kamfer 1 %, seskuiterpen, d pinen, galangin dan lain-lain. Penelitian yang lebih intensif menemukan bahwa rimpang lengkuasmengandung zat-zat yang dapatmenghambat enzim xanthin oksidasesehingga bersifat sebagai antitumor.Lengkuas mengandung asetoksi kavikol asetat dan asetoksi eugenol asetat yangbersifat antiradang dan antitumor (Buchbaufr, 2003).
3. Macam-macam Mikroba pada Bahan Makanan
a) Bakteri, merupakan makhluk bersel tunggal yang berkembang biak dengan cara membelah diri dari satu sel menjadi dua sel. Ikan seringkali terserang bakteri jenis A.hidrophila (Prajitno,2007)
b) Virus, virus sering mencemari pangan tertentu seperti susu, hasil laut dan lain-lain. Salah satu virus yang sering mencemari pangan yaitu hepatitis A, serta virus polio (Purwoko, 2007)
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba
Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba pada pangan dibedakan atas dua kelompok, yaitu : karakteristik pangan (aktivitas air, nilai PH, kandungan gizi, senyawa antimikroba) dan kondisi lingkungan (suhu, oksigen, kelembaban) (Purwoko,2007)

5
5. Macam-Macam Senyawa Antimikroba
Mikroba adalah suatu zat yang mampu mengganggu pertumbuhan dan metabolisme mikroba. Mekanisme kerja antimikroba antara lain dengan jalan merusak dinding sel, merusak membran sitoplasma, mendenaturasi protein sel dan menghambat kerja enzim dalam sel (Prajitno,2007).
Komponen antimikroba adalah suatu komponen yang bersifat dapat menghambat pertumbuhan bakteri (bakteristatik) atau membunuh bakteri (bakterisidal) (Ardiansyah, 2007) fitokemikal antimikroba yang bermanfaan dapat dibagi ke dalam beberapa kategori yang meliputi fenolik dan polifenol, terpenoid dan minyak esensial, alkaloid, tanin lektin dan polipeptida, campuran dan senyawa lain (Rochman, 2004).
Minyak atsiri memiliki aktivitas sebagai antijamur dan antibakteri (Elistina, 2005). Minyak atsiri pada umumnya dibagi menjadi dua komponen yaitu golongan hidrokarbon dan hidrokarbon teroksigenasi (Robinson, 1991 dalam Soetarno, 1990). Menurut Heyne (1987), senyawa-senyawa turunan hidrokarbon teroksigenasi (fenol) memiliki daya anti bakteri yang kuat.
Minyak atsiri dipisahkan dari bahan melalui proses penyulingan. Pada dasarnya terdapat 2 macam penyulingan (Sastrohamidjojo, 2004) yaitu penyulingan cairan tercampur sempurna dan cairan 2 fasa.




BAB III
METODE PENDEKATAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis statistika berupa uji t untuk mengetahui perbedaan kondisi ikan kembung A dan B.
B. Populasi dan Sampel
Populasi yang digunakan pada penelitian ini adalah ikan kembung yang ada di Pasar Tradisional Lawang Malang. Sedangkan sampel yang digunakan yaitu ikan kembung A (ikan kembung yang diberi perlakuan berupa pemberian pati lengkuas) dan ikan kembung B (ikan yang tidak diberi pati lengkuas).
C. Model Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang bertujuan untuk mengetahui Pengaruh pemberian pati rimpang lengkuas (Lenguas galangal l.) terhadap perubahan kondisi ikan kembung A setiap 3 jam sekali dan pendataan terhadap kondisi ikan kembung

6
B yang tidak diberi perlakuan berupa pemberian pati rimpang lengkuas (Lenguas galangal l.). Perlakuan yang diberikan sebanyak dua perlakuan tersebut masing-masing diulang 2 kali, baik ikan kembung tanpa dibaluri pati lengkuas maupun ikan kembung dengan dibaluri pati rimpang lengkuas. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK).

D. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Labolatorium Kimia Organik, Jurusan Kimia FMIPA UM dan labolatorium Mikrobiologi, Jurusan Biologi FMIPA UM. Penelitian ini dimulai pada tanggal 2 Maret 2009 hingga tanggal 1 Juni 2009.
E. Tahapan Pelaksanaan Penelitian
 Perbaikan desain penelitian
 Isolasi minyak atsiri
 Uji Aktivitas Senyawa Antimikroba dari Lengkuas Pada Ikan Kembung
 Peninjauan hasil perlakuan
 Mengumpulkan data
 Menganalisis da
 Menyusun laporan penelitian
F. Instrumen Pelaksanaan
Alat yang digunakan pada isolasi minyak atsiri adalah pisau, tatakan dan nampan sebagai alat untuk mempersiapkan bahan-bahan isolasi minyak atsiri. Untuk proses destilasi digunakan seperangkat alat destilasi yang meliputi dandang uap, pipa destilasi, selang bening, klem beserta penyangganya), botol kecap, botol vial, statif, kompor minyak dan corong pisah.
Alat yang dibutuhkan untuk membuat pati lengkuas adalah alat pemarut, saringan teh, mangkuk bening, pengaduk, ppipet tetes, plastic bening dan karet. Alat yang digunakan pada proses uji efektivitas senyawa antimikroba pada pati rimpang lengkuas (Lenguas galangal l.) meliputi small glass plate (piring gelas kecil), aluminium voil, selotip dan dry oven.
Bahan-bahan yang digunakan dalam proses isolasi minyak atsiri adalah 3 kg lengkuas ( Lenguas galangal l.), minyak tanah dan gips. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan untuk uji Aktivitas senyawa kimia antimikroba dari rimpang lenguas (Lenguas galangal l.) adalah rimpang lengkuas (Lenguas galangal l.) sebanyak 2 ons, aquades dan ikan kembung




7

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Isolasi Minyak Atsiri
Menggunakan destilasi uap. Pembuatan irisan tipis bertujuan agar uap dapat menembus jaringan tanaman dan menguapkan semua senyawa yang mudah menguap. Selanjutnya uap tersebut didinginkan dan ditampung kedalam botol.

2. Uji efektivitas senyawa antimikroba dari pati rimpang lengkuas (Lenguas galanga l.)
Pada praktikum mengenai pengujian aktivitas senyawa antimikroba yang terkandung dalam rimpang lengkuas tersebut dilakukan dengan pengujian secara langsung pada tubuh ikan kembung. Pati lengkuas mengandung senyawa antimikroba berupa komponen D- Limonen; Eukaliptol; 3- sikloheksen-1-ol, 4-metil-1- (1-metiletil); Fenol, 4-(2-propenil) asetat dan lain-lain ini secara langsung dilumurkan pada tubuh ikan kembung.
B. Pembahasan
1. Proses Isolasi Minyak Atsiri
Pengisolasian minyak atsiri atau mengeluarkan minyak atsiri dari suatu bahan beraroma. Menurut Kardinan (2005), minyak atsiri dapat dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu minyak atsiri yang dapat dengan mudah dipisahkan menjadi komponen-komponen atau penyusun murninya dan minyak atsiri yang sukar dipisahkan menjadi komponen murninya.
Proses tersebut diawali dengan membuat irisan setipis mungkin rimpang lengkuas. Karena minyak atsiri hanya akan keluar setelah uap menerobos jaringan-jaringan tanaman yang terdapat di permukaan. Proses lepasnya minyak atsiri ini hanya dapat terjadi dengan hidrodifusi atau penembusan air pada jaringan-jaringan tanaman. (Sastrohamidjojo, 2004),.
Pada proses ini lengkuas yang digunakan terlebih dahulu dikeringkan sehingga minyak atsiri yang dihasilkan pun hanya seberat 1 ml.Selain itu, dandang uap yang kita gunakan pun kurang memadai, jadi minyak atsiri yang dihasilkan kurang maksimal. Dari hasil tersebut dapat dibahas bahwa proses pengeringan terhadap bahan ternyata dapat mengubah sifat-sifat fisika kimia minyak atsiri yang mudah menguap. Menurut Kardinan (2005), bahwa semua senyawa penyusun minyak atsiri tidak stabil dan peka terhadap suhu tinggi. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Sastrohamidjojo (2004) yang menyatakan bahwa selama pengeringan dan pelayuan, membran sel berangsur-angsur akan pecah, cairan bebas melakukan penetrasi dari satu sel ke sel lain hingga membentuk senyawa yang mudah menguap.

8

2. Proses Uji Aktivitas Senyawa Antimikroba dari Rimpang Lengkuas (Lenguas galanga l.) pada Ikan Kembung
Berdasarkan data yang diperoleh, dapat dilihat bahwa ikan kembung yang tubuhnya dilumuri dengan pati rimpang lengkuas terbukti lebih awet dengan selisih waktu 36 jam untuk mengalami perubahan tingkat kesegaran dibanding dengan ikan kembung yang tubuhnya tidak dilumuri dengan pati lengkuas. Kondisi ikan yang diamati tersebut dapat diringkas menjadi 5 macam kondisi yaitu segar, kurang segar, tidak segar, busuk dan sangat busuk berdasarkan indikasi ataupun ciri-ciri berbeda yang ditampakkan oleh ikan kembung tersebut. Ikan kembung dikatakan segar apabila kondisi tubuhnya masih lazim, warna tubuh mengkilat, tidak timbul bau busuk, warna mata nampak segar. Sedangkan pada kondisi sangat busuk, ikan kembung sudah mengeluarkan cairan, berbau busuk, permukaan tubuhnya tidak mengkilat biasanya berwarna merah kecoklatan, mengalami pendarahan di sekitar tutup insangnya dan warna mata sudah tidak segar lagi.
Penghambatan pertumbuhan mikroba berupa bakteri tersebut dikarenakan pati rimpang lengkuas yang mengandung senyawa antimikroba berupa minyak atsiri berwarna kuning yang terdiri dari sineol, eugenol, seskuiterpen dan lain-lain sebagai persenyawaan fenolik. Selain itu, pati lengkuas juga mengandung senyawa aktif antimikroba yaitu fenol, flavonoid dan terpenoid (Buchbaufr,2003 dalam Luthana 2009).
. Pada kadar tinggi fenol menyebabkan koagulasi protein dan sel membran akan mengalami lisis (Luthana, 2009). Seperti senyawa antimikroba lainnya, mekanisme kerja fenol adalah menghambat pertumbuhan dan metabolisme bakteri dengan cara merusak membran sitoplasma dan mendenaturasi protein sel. Sehingga senyawa tersebut dapat bersifak bakterisidal atau bakteriostatis, bergantung dosis yang digunakan.
Menurut Corn dan Stumpf (1976) dalam Pudjiarti (2000) menyatakan bahwa fenol merupakan suatu alkohol yang bersifat asam lemah sehingga disebut juga asam karbolat. Sebagai asam lemah senyawa-senyawa fenolik juga dapat terionisasi melepaskan ion Hˉ dan meninggalkan gugus sisanya yang bermuatan negatif. Kondisi yang bermuatan negatif ini akan ditolak oleh dinding sel bakteri garam positifyang secara alami juga bermuatan negatif. Kondisi yang asam pada senyawa tersebut menyebabkan fenol dapat bekerja menghambat pertumbuhan bakteri.
Pada praktikum ini, bakteri akan mulai tumbuh 42 jam setelah pemberian pati dari rimpang lengkuas. Hal itu disebabkan bakteri akan dapat tumbuh setelah senyawa kimia berupa senyawa fenolik yang diberikan pada konsentrasi tertentu telah berfungsi dengan baik. Selain itu pengaruh suhu dan udara yang menyebabkan senyawa kimia tersebut menguap.Faktor lain yang dapat memicu pertumbuhan bakteri adalah adanya suhu optimum pertumbuhan.
9
Mekanisme penghambatan mikroorganisme oleh senyawa antimikroba berupasenyawa fenolik dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) gangguan pada senyawa penyusun dinding sel, (2) peningkatan permeabilitas membran sel yang dapat menyebabkan kehilangan komponen penyusun sel, (3) menginaktivasi enzim, dan (4) destruksi atau kerusakan fungsi material genetic (Ardiansyah :2007).
1. Menggangu pembentukan dinding sel
2. Bereaksi dengan membran sel
3. Menginaktivasi enzim.
4. Menginaktivasi fungsi material genetik

3. Rasa dan Kualitas ikan Kembung Setelah Diawetkan dengan pati Lengkuas (Lenguas galanga l.)
Berdasarkan hasil penelitian, ikan kembung yang diawetkan menggunakan rimpang lengkuas memiliki cita rasa yang sedap dan kualitas ikan yang lebih bagus jika dibandingkan dengan ikan yang tidak diawetkan. Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa ikan kembung awetan (menggunakan pati rimpang lengkuas), kulitnya tidak mengelupas atau hancur dan menempel pada wajan saat digoreng. Sedangkan ikan segar yang tidak diawetkan, kulitnya mengelupas saat digoreng. Hal tersebut menunjukkan bahwa kulit ikan kembung yang diawetkan tersebut memiliki kondisi yang kuat dan lebih elastis sehingga tidak mudah rusak akibat salah satu senyawa yang terkandung dalam rimpang lengkuas.
Sesuai dengan pernyataan Noro dkk(1998) tanin merupakan suatu nama deskriptif umum untuk suatu grup substansi fenolik polimer yang mampu menyamak kulit atau mempresipitasi gelatin dari cairan, atau suatu sifat yang dikenal dengan astringensi. Salah satu aksi molekul mereka adalah membentuk kompleks dengan protein melalui kekuatan non-spesifik seperti ikatan hidrogen dan efek hidrofobik sebagaimana pembentukan ikatan kovalen. Cara kerja aksi antimikrobial mereka mungkin berhubungan dengan kemampuan mereka untuk menginaktivasi adhesin mikroba, enzim, protein transport cell envelope. Mereka juga membentuk kompleks dengan polisakarida. Maka dapat diasumsikan bahwa senyawa yang mengawetkan kulit ikan tersebut adalah senyawa tanin.
Ketika diuji bagaimana perubahan rasa yang terjadi antara ikan yang diawetkan dengan ikan yang tidak diawetkan, maka didapatkan data bahwa ikan yang diawetkan memiliki rasa lengkuas (agak getir) pada bagian kulitnya, namun pada bagian dagingnya, rasa ikan tersebut justru lebih gurih dibandingkan dengan ikan yang tidak diawetkan




10
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Rimpang lengkuas (Lenguas galangal) mengandung senyawa anti mikroba berupa minyak atsiri
2. Rimpang lengkuas (Lenguas galangal) dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengawet pengganti formalin
3. Rasa dan kualitas ikan kembung yang diawetkan dengan lengkuas ternyata tidak mengalami perubahan yang signifikan sehingga ikan kembung layak untuk dikonsumsi.
B. Saran
1. Ada penelitian lanjutan mengenai cara pengolahan rimpang lengkuas sebagai bahan pengawet pengganti formalin sehingga dapat diproduksi secara besar-besaran.
2. Ada tindakan lanjut agar hasil penelitian tersebut dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat.
























DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah. 2007. Antimikroba dari Tumbuhan (Online) (www.beritaiptek.com, diakses tanggal 12 Desember)
Buchbaufr G., 2003, Original research paper,Acta Pharm, 53 : 73-81
Elistina, M. D..2005.Isolasi dan Uji Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri Dari Daun Sirih (Piper betle L), Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Udayana, Denpasar
Heyne K., 1987, Tumbuhan Berguna Indonesia II, Badan Litbang Kehutanan, Jakarta
Luthana,Yongki Kastanya. 2009. Minyak Atsiri Dari Rimpang Lengkuas (online), (http// www blogspot.minyak atsiri dari rimpang lengkuas « yis's FOOD entertaining.htm, diakses tanggal 1 April 2009)
Parwata, Oka Adi, dkk. 2008. Isolasi Dan Uji Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri Dari Rimpang Lengkuas (Alpinia galanga L.). JURNAL KIMIA 2 (2), JULI 2008 : 100-104, (online), Vol 2 no 2_6, (http// edu.olam.script/artcl/.., diakses tanggal 1 Mei 2009)
Pelezar, M.J dan E.C.S. Chan 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi 2. Alih Bahasa oleh :
Hadi Oetomo et al UI Press: Jakarta
Prajitno, Arief. 2007. Penyakit ikan - udang : bakteri. UM Press : Malang
Purwoko, Tjahjadi. 2007. Fisiologi Mikroba. Bumi Aksara: Jakarta
Rahayu, Winiarti Pudji. 2000. Aktivitas Antimikroba Bumbu Masakan Tradisional hasil Olahan industri Terhadap bakteri Patogen dan Perusak.Bul Teknol dan Industri pangan, (online), Vol XI. No.2., (http: osu/edu/mikro/... diakses tenggal 31 Mei 2009)

Rochman Naim Senyawa Antimikroba dari Tanaman. (online)(www.kompas.com, diakses tanggal 12 Desember 2008)
Salam. 2006. Mengenal Formalin dan bahayanya, (online), (http://salam-online. web.id, diakses tanggal 1 Maret 2009)
Sastrohamidjojo, Hardjono. 2004. Kimia Minyak Atsiri. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.
Soetarno S., 1990, Terpenoid, Pusat Antar Universitas Bidang Ilmu Hayati ITB, Bandung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer